Kamis, 25 April 2013

cerpen 2

Diposting oleh Unknown di 22.20

LEDEK ITU BUKAN MAWAR HITAM

Kutemukan sebuah lembaran usang.Foto masa lalu,dengan goresan pena.Balutan pakaian yang ia kenakan terlihat menawan.Dan kutemui pula potret seorang lelaki di sampingnya.Aku menatap foto itu.Wanita itu Bu Lasmini.Wanita tangguh yang tak pernah mengeluh.
Semua tentangnya kini kembali....

            Raut wajahnya terlihat baik-baik saja.tapi yang ia lakukan tak sewajarnya.Menari dengan lemah gemulai dan dikibaskannya selendang hijau transparan.Di depannya terlihat sesosok pria yang santai tapi, menyeramkan.Alunan musik gamelan itu,masih memekakan telinga.Bukan sepasang saja disana,masih banyak pasangan-pasangan lain yang terlihat mesra.Wanita-wanita itu bukanlah seorang yang lemah.Mereka tangguh.Karena mereka tak pernah meminta.
“Namamu siapa,dik ?” Lelaki itu memulai percakapan.
“Tak usah panggil aku dik, usiaku sudah kepala tiga! Aku Lasmini...”
“Kepala tiga ? Masih mampu bekerja begini ?” raut wajahnya tampak kaget.
“Aku bukan wanita lemah,ini mungkin bukan pekerjaan yang wajar.Tapi hanya ini yang bisa kulakukan !”
Percakapan itu masih berlangsung,sambil terus menari.
“Ya,mau upah berapa?” lelaki itu bertanya dengan santai.
“Aku tak pernah mau meminta,berapa saja aku mau... Atau tak usah kau sawer pun aku mau!”
“Ikutlah denganku !” lelaki itu menarik Bu Lasmini
            Pagelaran tayub itu,sepi.Mereka semua telah pergi.Lelaki itu membawanya pergi.Bu Lasmini yang masih dengan pakaian tari.Sekarang mereka berada di dalam mobil lawas yang usang,menjauh dari tempat tayub.
“Mas Prianto mau membawaku kemana? ini sudah hampi maghrib,saya harus kembali!Prita menunggu ku, mas....!” Bu Lasmini mulai membuka mulut,disaat mobil itu mulai berjalan.
“Las,aku belum membayarmu... Kau mau apa?Aku punya segalanya!tari ledek mu membuat aku terpikat!” Prianto menjawabnya dengan santai.
“Bukan apa-apa yang aku mau!Pulangkan aku ke desa ujung!!”
“Baiklah,aku akan membawa mu kembali! Ini aku memberimu sedikit!”
            Lelaki itu menyempikan selembar uang seratus ribu,di tengah belahan dada Bu Lasmini.Ia menampik tangan keji itu dan menampar pipi Prianto.
“Aku tak butuh uangmu!Aku menari ledek karena ini tradisi keluargaku.Melestarikan budaya nenekku!Bukan untuk menjadi pelacur seperti yang kau kira!”
            Uang itu kembali dilempar Bu Lasmini.Ia memberontak pada Prianto ku yang sedang menyetir pelan disampingnya.
“Hahaha... sudahlah! Aku tahu semua watak penari ledek termasuk kamu!Aku memang bukan orang Jawa!Tapi,aku kemari ingin menemuimu untuk menjadi temanku selamanya... Hahaha!” Prianto mengatakan dengan garang,sambil menyubit pinggang Bu Lasmini.
“Cuih ! Aku tidak akan sudi , kau anggap pelacur begini!Aku menyesal mau menari denganmu!Turunkan aku sekarang !!” Ucap Bu Lasmini dengan nada tinggi.
            Lelaki disampingnya hanya tertawa sambil menghisap sebatang rokok.Sedangkan Bu Lasmini tersedu menangis.Dengan segala tekat ia memberanikan diri membuka pintu mobil yang sedang melaju pelan.BRAK ! pintu itu terbuka dan Bu Lasmini jatuh tersungkur di jalan berbatu.Prianto terlihat gelagapan.mukanya merah padam dan menujukkan expresi kebencian.Bu Lasmini lari tunggang langgang sambil memegangi pakaian kembennya.Ia berlari jauh sampai ke sebuah rumah kecil yang terlihat bersih.Ia menoleh,mobil itu tak tampak lagi.
“Nduk,awakmu sopo?Ono opo ing kene?” seorang nenek tua keluar dan bertanya pada Bu Lasmini.
“Kulo Lasmini.. Wonten tiang jaler,ingkang bade mbeto kulo mlayu!” Jawab Bu Lasmini.
“Omah mu ngendi? Klambimu mlajeng iku...!”
“Kulo tiang Ndadapan, nggeh tari ledek!”
“Yen pancen kowe iku Ledek, ora usah bali.Urip’o nek kene wae.Aku dewe ing kene!”
“Mbah, kulo niki sampun kangungan putri..” jawab Bu Lasmini jelas.
“yo wes,turu’o sewengi ing kene! Amarga iki wis wengi!” pinta nenek itu sambil memegangi tangan Bu Lasmini.
            Bu Lasmini mulai memasuki rumah kecil tua itu.Di sebagian dindingnya terpajang lukisan dan foto-foto tari yang menarik.
“Ini semua adalah lukisan Eyang Ratmo suami Eyang Lastri.Beliau adalah seorang pelukis,namun kini hanya kenangannya saja yang kami lihat.Beliau meninggal 6 tahun yang lalu...” suara seorang wanita tiba-tiba membuyarkan fikiran Bu Lasmini.
“Bergantilah pakaian dan kembali untuk makan malam....” wanita itu kembali berucap sambil menyerahkan pakaian.Bu Lasmini bingung dengan wanita yang mengagetkannya tadi.Ia berfikir siapa wanita tadi, mungkinkah anak nenek tua tadi ?
            Tepat pukul 8 malam Bu Lasmini sudah siap untuk makan malam.Nenek dan wanita tadi sudah bersiap dengan piring aluminium dan beberapa makanan.
“Kenalkan, aku Nadia dan ini Eyang Lastri.Saya adalah salah satu murid Eyang dan saya tinggal di belakang rumah ini.Tapi,saya lebih sering tinggal disini menemani eyang...” Katanya halus sambil mengambilkan nasi untuk Bu Lasmini.
“Makanlah, ini masakan Eyang...” lanjutnya sambil menyodorkan piring pada Bu Lasmini.
“Ya, terimakasih... Eyang Lastri ini seorang guru tari?” tanya Bu Lasmini yang masih terlihat bingung.
“Iya,beliau adalah seorang penari hebat.Khususnya ledek.Tapi,maafkan Eyang... Beliau ini tak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar!” Lanjut Nadia.
            Waktu makan malam telah usai.Perut Bu Lasmini sudah terisi.dan kini Nadia membawa Bu Lasmini ke bilik-bilik rumah tua.Apa yang dilihatnya membuat nya tajub.Lukisan almarhum Eyang Ratmo indah dan begitu bermakna.Nadia menemani Bu Lasmini hingga larut malam.Tepat pukul 23.00 WIB sebuah alunan lagu terdengar begitu lembut.Bu Lasmini menyaksikan sendiri bagaimana Eyang Lastri menari Ledek.Dengan panggilan hati Nadia dan Bu Lasmini ikut menari di belakang eyang.
“ledek iki,tarian asal Jawa.. sopo wae kang dadi penerus’e kudu iso nggowo diri.Yen ora bakal rusak.Ledek iki ana ing Tayuban.. lakonono opo wae kang iso mok lakokne...” Eyang Lastri menembang kata-kata itu dengan penuh penghayatan dan ia terus menari dengan lemah dalam balutan kain batiknya.
            Bu Lasmini dan Nadia terus mengikuti alunan musik pengiring tari ledek.Malam itu memang begitu sunyi dan misterius.Mereka berhenti menari sampai setengah 1 pagi.Bu Lasmini tertidur pulas di sebuah ranjang kuno , tempat tidur Eyang Lastri.     
            Malam berganti dengan pagi.Matahari menyingsing di ujung timur.Bu Lasmini berganti pakaian , dengan pakaian ledeknya kemarin dan berpamitan pulang kepada Eyang Lastri dan Nadia.Ia pulang dengan naik ojek yang dipesan Eyang Lastri.
            Lima puluh menit perjalanan,Bu Lasmini sampai dirumah.Ia menemui seorang anak berparas cantik.Tanpa ba-bi-bu lagi,di dekapnya gadis kecil itu.Bu Lasmini tersedu dalam pundang gadis kecil itu.Mata bulat anak itu terlihat kosong,pipinya mulai basah.Ia menangis.
“Ibu kemana saja? Semalam aku tidur sendiri,aku takut bu...” pelukan gadis itu makin erat.
“Maafin ibu nak.Ibu sayang sama Prita.. jangan takut lagi ya... ”
            Gadis  kecil itu adalah aku.saat itu usiaku 10 tahun.Aku tahu pekerjaan ibu.Tapi,aku malas mengurusnya.Sepuluh tahun usia yang masih dini untukku,mengerti dunia ibu.Ayahku sudah tiada,saat aku berusia 3 tahun.Dia pergi,dibunuh massa karena mencuri gamelan di padepokan.Tak lama setelah Ibu memelukku,ia masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang,masih dengan balutan pakaian tari ledeknya.Aku mendekatinya dan memeluknya erat.Desah nafasnya cepat sekali.Tetapi,detak jantungnya melemah.Napasnya mulai tersendal dan dia berucap
“Bawalah selalu Ledek dalam setiap langkahmu.Lestarikan budaya kita... Ibu tahu,Prita bisa.Ibu sayang sama Prita.Maafin salah Ibu nak...” ucapan terakhir Ibu dalam dekapanku.
“Ibu,jangan pergi sekarang.Aku sayang sama Ibu...” aku terisak.
            Raut wajahnya kucium,dengan penuh kasih sayang.Aku kembali kehilangan orang yang ku sayang.Ibu menghembuskan nafas terakhir dalam pelukanku.Aku tak tau sebab kepergiannya,mungkin ibu menyimpan rasa sakitnya.Itu kenangan terakhirku bersamanya.Sekarang usia ku 24 tahun.Aku merindukannya,sangat merindukannya.Foto usang ini akan kuletakkan dalam dompet kecilku.Aku memenuhi kemauan Ibuku.Sekarang Ledek itu mendarah daging dalam hidupku.
Aku,akan mengenang Bu Lasmini.
Ibu yang aku sayang dan kucinta dalam setiap nafasku.

0 komentar:

Posting Komentar

 

naila nafisa Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos