LEDEK ITU BUKAN
MAWAR HITAM
Kutemukan sebuah lembaran usang.Foto masa lalu,dengan goresan
pena.Balutan pakaian yang ia kenakan terlihat menawan.Dan kutemui pula potret
seorang lelaki di sampingnya.Aku menatap foto itu.Wanita itu Bu Lasmini.Wanita
tangguh yang tak pernah mengeluh.
Semua tentangnya kini kembali....
Raut
wajahnya terlihat baik-baik saja.tapi yang ia lakukan tak sewajarnya.Menari
dengan lemah gemulai dan dikibaskannya selendang hijau transparan.Di depannya
terlihat sesosok pria yang santai tapi, menyeramkan.Alunan musik gamelan
itu,masih memekakan telinga.Bukan sepasang saja disana,masih banyak
pasangan-pasangan lain yang terlihat mesra.Wanita-wanita itu bukanlah seorang
yang lemah.Mereka tangguh.Karena mereka tak pernah meminta.
“Namamu siapa,dik ?” Lelaki itu memulai percakapan.
“Tak usah panggil aku dik, usiaku sudah kepala tiga! Aku
Lasmini...”
“Kepala tiga ? Masih mampu bekerja begini ?” raut wajahnya
tampak kaget.
“Aku bukan wanita lemah,ini mungkin bukan pekerjaan yang
wajar.Tapi hanya ini yang bisa kulakukan !”
Percakapan itu masih berlangsung,sambil terus menari.
“Ya,mau upah berapa?” lelaki itu bertanya dengan santai.
“Aku tak pernah mau meminta,berapa saja aku mau... Atau tak
usah kau sawer pun aku mau!”
“Ikutlah denganku !” lelaki itu menarik Bu Lasmini
Pagelaran
tayub itu,sepi.Mereka semua telah pergi.Lelaki itu membawanya pergi.Bu Lasmini
yang masih dengan pakaian tari.Sekarang mereka berada di dalam mobil lawas yang
usang,menjauh dari tempat tayub.
“Mas Prianto mau membawaku kemana? ini sudah hampi
maghrib,saya harus kembali!Prita menunggu ku, mas....!” Bu Lasmini mulai
membuka mulut,disaat mobil itu mulai berjalan.
“Las,aku belum membayarmu... Kau mau apa?Aku punya
segalanya!tari ledek mu membuat aku terpikat!” Prianto menjawabnya dengan
santai.
“Bukan apa-apa yang aku mau!Pulangkan aku ke desa ujung!!”
“Baiklah,aku akan membawa mu kembali! Ini aku memberimu
sedikit!”
Lelaki itu
menyempikan selembar uang seratus ribu,di tengah belahan dada Bu Lasmini.Ia
menampik tangan keji itu dan menampar pipi Prianto.
“Aku tak butuh uangmu!Aku menari ledek karena ini tradisi
keluargaku.Melestarikan budaya nenekku!Bukan untuk menjadi pelacur seperti yang
kau kira!”
Uang itu
kembali dilempar Bu Lasmini.Ia memberontak pada Prianto ku yang sedang menyetir
pelan disampingnya.
“Hahaha... sudahlah! Aku tahu semua watak penari ledek
termasuk kamu!Aku memang bukan orang Jawa!Tapi,aku kemari ingin menemuimu untuk
menjadi temanku selamanya... Hahaha!” Prianto mengatakan dengan garang,sambil
menyubit pinggang Bu Lasmini.
“Cuih ! Aku tidak akan sudi , kau anggap pelacur begini!Aku
menyesal mau menari denganmu!Turunkan aku sekarang !!” Ucap Bu Lasmini dengan
nada tinggi.
Lelaki
disampingnya hanya tertawa sambil menghisap sebatang rokok.Sedangkan Bu Lasmini
tersedu menangis.Dengan segala tekat ia memberanikan diri membuka pintu mobil
yang sedang melaju pelan.BRAK ! pintu itu terbuka dan Bu Lasmini jatuh
tersungkur di jalan berbatu.Prianto terlihat gelagapan.mukanya merah padam dan
menujukkan expresi kebencian.Bu Lasmini lari tunggang langgang sambil memegangi
pakaian kembennya.Ia berlari jauh sampai ke sebuah rumah kecil yang terlihat
bersih.Ia menoleh,mobil itu tak tampak lagi.
“Nduk,awakmu sopo?Ono opo ing kene?” seorang nenek tua keluar
dan bertanya pada Bu Lasmini.
“Kulo Lasmini.. Wonten tiang jaler,ingkang bade mbeto kulo
mlayu!” Jawab Bu Lasmini.
“Omah mu ngendi? Klambimu mlajeng iku...!”
“Kulo tiang Ndadapan, nggeh tari ledek!”
“Yen pancen kowe iku Ledek, ora usah bali.Urip’o nek kene
wae.Aku dewe ing kene!”
“Mbah, kulo niki sampun kangungan putri..” jawab Bu Lasmini
jelas.
“yo wes,turu’o sewengi ing kene! Amarga iki wis wengi!” pinta
nenek itu sambil memegangi tangan Bu Lasmini.
Bu Lasmini
mulai memasuki rumah kecil tua itu.Di sebagian dindingnya terpajang lukisan dan
foto-foto tari yang menarik.
“Ini semua adalah lukisan Eyang Ratmo suami Eyang
Lastri.Beliau adalah seorang pelukis,namun kini hanya kenangannya saja yang kami
lihat.Beliau meninggal 6 tahun yang lalu...” suara seorang wanita tiba-tiba
membuyarkan fikiran Bu Lasmini.
“Bergantilah pakaian dan kembali untuk makan malam....”
wanita itu kembali berucap sambil menyerahkan pakaian.Bu Lasmini bingung dengan
wanita yang mengagetkannya tadi.Ia berfikir siapa wanita tadi, mungkinkah anak
nenek tua tadi ?
Tepat pukul
8 malam Bu Lasmini sudah siap untuk makan malam.Nenek dan wanita tadi sudah
bersiap dengan piring aluminium dan beberapa makanan.
“Kenalkan, aku Nadia dan ini Eyang Lastri.Saya adalah salah
satu murid Eyang dan saya tinggal di belakang rumah ini.Tapi,saya lebih sering
tinggal disini menemani eyang...” Katanya halus sambil mengambilkan nasi untuk
Bu Lasmini.
“Makanlah, ini masakan Eyang...” lanjutnya sambil menyodorkan
piring pada Bu Lasmini.
“Ya, terimakasih... Eyang Lastri ini seorang guru tari?”
tanya Bu Lasmini yang masih terlihat bingung.
“Iya,beliau adalah seorang penari hebat.Khususnya
ledek.Tapi,maafkan Eyang... Beliau ini tak bisa berbahasa Indonesia dengan
lancar!” Lanjut Nadia.
Waktu makan
malam telah usai.Perut Bu Lasmini sudah terisi.dan kini Nadia membawa Bu
Lasmini ke bilik-bilik rumah tua.Apa yang dilihatnya membuat nya tajub.Lukisan
almarhum Eyang Ratmo indah dan begitu bermakna.Nadia menemani Bu Lasmini hingga
larut malam.Tepat pukul 23.00 WIB sebuah alunan lagu terdengar begitu lembut.Bu
Lasmini menyaksikan sendiri bagaimana Eyang Lastri menari Ledek.Dengan
panggilan hati Nadia dan Bu Lasmini ikut menari di belakang eyang.
“ledek iki,tarian asal Jawa.. sopo wae kang dadi penerus’e
kudu iso nggowo diri.Yen ora bakal rusak.Ledek iki ana ing Tayuban.. lakonono
opo wae kang iso mok lakokne...” Eyang Lastri menembang kata-kata itu dengan
penuh penghayatan dan ia terus menari dengan lemah dalam balutan kain batiknya.
Bu Lasmini
dan Nadia terus mengikuti alunan musik pengiring tari ledek.Malam itu memang
begitu sunyi dan misterius.Mereka berhenti menari sampai setengah 1 pagi.Bu
Lasmini tertidur pulas di sebuah ranjang kuno , tempat tidur Eyang Lastri.
Malam
berganti dengan pagi.Matahari menyingsing di ujung timur.Bu Lasmini berganti
pakaian , dengan pakaian ledeknya kemarin dan berpamitan pulang kepada Eyang
Lastri dan Nadia.Ia pulang dengan naik ojek yang dipesan Eyang Lastri.
Lima puluh
menit perjalanan,Bu Lasmini sampai dirumah.Ia menemui seorang anak berparas
cantik.Tanpa ba-bi-bu lagi,di dekapnya gadis kecil itu.Bu Lasmini tersedu dalam
pundang gadis kecil itu.Mata bulat anak itu terlihat kosong,pipinya mulai
basah.Ia menangis.
“Ibu kemana saja? Semalam aku tidur sendiri,aku takut bu...”
pelukan gadis itu makin erat.
“Maafin ibu nak.Ibu sayang sama Prita.. jangan takut lagi
ya... ”
Gadis kecil itu adalah aku.saat itu usiaku 10
tahun.Aku tahu pekerjaan ibu.Tapi,aku malas mengurusnya.Sepuluh tahun usia yang
masih dini untukku,mengerti dunia ibu.Ayahku sudah tiada,saat aku berusia 3
tahun.Dia pergi,dibunuh massa karena mencuri gamelan di padepokan.Tak lama
setelah Ibu memelukku,ia masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang,masih
dengan balutan pakaian tari ledeknya.Aku mendekatinya dan memeluknya erat.Desah
nafasnya cepat sekali.Tetapi,detak jantungnya melemah.Napasnya mulai tersendal
dan dia berucap
“Bawalah selalu Ledek dalam setiap langkahmu.Lestarikan
budaya kita... Ibu tahu,Prita bisa.Ibu sayang sama Prita.Maafin salah Ibu
nak...” ucapan terakhir Ibu dalam dekapanku.
“Ibu,jangan pergi sekarang.Aku sayang sama Ibu...” aku
terisak.
Raut
wajahnya kucium,dengan penuh kasih sayang.Aku kembali kehilangan orang yang ku
sayang.Ibu menghembuskan nafas terakhir dalam pelukanku.Aku tak tau sebab
kepergiannya,mungkin ibu menyimpan rasa sakitnya.Itu kenangan terakhirku
bersamanya.Sekarang usia ku 24 tahun.Aku merindukannya,sangat
merindukannya.Foto usang ini akan kuletakkan dalam dompet kecilku.Aku memenuhi
kemauan Ibuku.Sekarang Ledek itu mendarah daging dalam hidupku.
Aku,akan mengenang Bu Lasmini.
Ibu yang aku sayang dan kucinta dalam setiap nafasku.
0 komentar:
Posting Komentar