Senin, 29 April 2013

Diposting oleh Unknown di 21.24 0 komentar

Sony Luncurkan Keker Digital Baru  

Sony Luncurkan Keker Digital Baru  
Sony DEV-50V. Engadget.com
Sony telah luncurkan binokuler alias keker dengan teknologi digital yang bisa membantu anda merekam apapun yang anda lihat. Keker ini adalah perangkat digital yang merupakan penyempurnaan dari keker versi analog.

Generasi kedua dari keker digital Sony, disebut DEV-50V. Keker digital Sony ini bisa merekam yang anda lihat sementara anda masih melihat melalui lensa yang bisa memberi anda lebih dari 25 kali perbesaran. Anda bisa gunakan keker digital ini untuk menonton acara olahraga dan merekamnya pada waktu yang sama.

DEV-50V didukung dengan prosesor gambar Sony Bionz yang bisa digunakan untuk merekam video berkualitas tinggi dalam format MPEG-4 dan 3D HD: AVCHD. Keker digital ini juga bisa memotret dengan kekuatan 20.4 megapixel. Selain itu, dilengkapi juga dengan mikrofon stereo dan mono speaker. Anda bisa menyimpan hasil rekaman di memori internal atau eksternal.

Generasi sebelumnya DEV-5 memiliki 10x zoom dan kameranya masih 7.1 megapixel. Sedangkan versi barunya, DEV-50V, 30 persen lebih cerah. Sony akan mulai memasarkan DEV-50v pada bulan Juni dengan harga 2.000 dolar atau setara dengan 19 juta rupiah.

Keunggulan Sony DEV-50V lainnya terletak pada stabilisasi gambar Optical SteadyShot. Juga dilengkapi auto fokus, sehingga anda tak perlu menghabiskan waktu untuk mengatur perbesaran supaya melihat sesuatu lebih jelas. Jika pemandangan yang anda amati berganti, maka begitu juga auto fokus. Sensor gambar Exmor R bisa mengganti tingkat kecerahan jika anda melihat pemandangan dengan cahaya remang atau cerah.

Selama perangkat ini kompatibel dengan teknologi Sony Bravia, anda bisa berbagi hasil rekaman melalui output HDMI dan menampilkannya di TV. DEV-50V berbobot 46 gram. Sony DEV-50V juga anti air dan anti debu, jadi anda bisa membawanya bertualang.(tempo.com)
Diposting oleh Unknown di 21.18 0 komentar

Apple Dirumorkan Bikin iPad Mini Versi Murah  

Apple Dirumorkan Bikin iPad Mini Versi Murah  
iPad mini. REUTERS/Yuriko Nakao

Perang harga antara iOS dan Android tampaknya kian ramai. Setelah rumor iPhone versi murah, Apple kini juga dirumorkan bikin iPad Mini versi murah. Menurut analis dari KGI Securities, Ming Chi Kuo, iPad adalah portofolio penting buat Apple.

Namun pasar tablet yang dijejali dengan gadget ber-OS Android, dengan ukuran kecil dan harga murah, memaksa Apple beradaptasi. Tak hanya membuat iPad Mini dengan ukuran layar 7,9 inci, tapi juga membuat iPad Mini versi murah. iPad murah ini diperkirakan akan dibanderol US$ 199-249 (sekitar Rp 1,9-2,36 juta). Ini lebih murah dari iPad Mini biasa, yang dibanderol paling murah US$ 329 alias Rp 3,2 juta.

Dengan pemotongan harga ini, tentu juga akan menekan spesifikasi komponennya. Kuo memperkirakan Apple akan mengurangi komponen aluminium untuk casing-nya. Prosesornya juga mungkin hanya prosesor A5. Kamera depan kemungkinan akan dihilangkan dan media penyimpanannya hanya 8 GB.

Menurut Kuo, jika iPad Mini versi murah ini diluncurkan, tak akan bisa mendorong penjualan Apple secara signifikan. Namun setidaknya Apple bisa bertahan dari gempuran tablet Android yang murah.

Kuo melihat penjualan tablet Apple tahun ini lebih rendah dibanding sebelumnya. Pasalnya, kehadiran iPad Mini memakan pasar iPad biasa dengan layar 9,7 inci. Menurut Kuo, penjualan iPad bisa tetap dipertahankan dengan meluncurkan iPad Mini berlayar retina display, yang kemungkinan diluncurkan pada akhir tahun ini.(tempo.com)

Kamis, 25 April 2013

cerpen 2

Diposting oleh Unknown di 22.20 0 komentar

LEDEK ITU BUKAN MAWAR HITAM

Kutemukan sebuah lembaran usang.Foto masa lalu,dengan goresan pena.Balutan pakaian yang ia kenakan terlihat menawan.Dan kutemui pula potret seorang lelaki di sampingnya.Aku menatap foto itu.Wanita itu Bu Lasmini.Wanita tangguh yang tak pernah mengeluh.
Semua tentangnya kini kembali....

            Raut wajahnya terlihat baik-baik saja.tapi yang ia lakukan tak sewajarnya.Menari dengan lemah gemulai dan dikibaskannya selendang hijau transparan.Di depannya terlihat sesosok pria yang santai tapi, menyeramkan.Alunan musik gamelan itu,masih memekakan telinga.Bukan sepasang saja disana,masih banyak pasangan-pasangan lain yang terlihat mesra.Wanita-wanita itu bukanlah seorang yang lemah.Mereka tangguh.Karena mereka tak pernah meminta.
“Namamu siapa,dik ?” Lelaki itu memulai percakapan.
“Tak usah panggil aku dik, usiaku sudah kepala tiga! Aku Lasmini...”
“Kepala tiga ? Masih mampu bekerja begini ?” raut wajahnya tampak kaget.
“Aku bukan wanita lemah,ini mungkin bukan pekerjaan yang wajar.Tapi hanya ini yang bisa kulakukan !”
Percakapan itu masih berlangsung,sambil terus menari.
“Ya,mau upah berapa?” lelaki itu bertanya dengan santai.
“Aku tak pernah mau meminta,berapa saja aku mau... Atau tak usah kau sawer pun aku mau!”
“Ikutlah denganku !” lelaki itu menarik Bu Lasmini
            Pagelaran tayub itu,sepi.Mereka semua telah pergi.Lelaki itu membawanya pergi.Bu Lasmini yang masih dengan pakaian tari.Sekarang mereka berada di dalam mobil lawas yang usang,menjauh dari tempat tayub.
“Mas Prianto mau membawaku kemana? ini sudah hampi maghrib,saya harus kembali!Prita menunggu ku, mas....!” Bu Lasmini mulai membuka mulut,disaat mobil itu mulai berjalan.
“Las,aku belum membayarmu... Kau mau apa?Aku punya segalanya!tari ledek mu membuat aku terpikat!” Prianto menjawabnya dengan santai.
“Bukan apa-apa yang aku mau!Pulangkan aku ke desa ujung!!”
“Baiklah,aku akan membawa mu kembali! Ini aku memberimu sedikit!”
            Lelaki itu menyempikan selembar uang seratus ribu,di tengah belahan dada Bu Lasmini.Ia menampik tangan keji itu dan menampar pipi Prianto.
“Aku tak butuh uangmu!Aku menari ledek karena ini tradisi keluargaku.Melestarikan budaya nenekku!Bukan untuk menjadi pelacur seperti yang kau kira!”
            Uang itu kembali dilempar Bu Lasmini.Ia memberontak pada Prianto ku yang sedang menyetir pelan disampingnya.
“Hahaha... sudahlah! Aku tahu semua watak penari ledek termasuk kamu!Aku memang bukan orang Jawa!Tapi,aku kemari ingin menemuimu untuk menjadi temanku selamanya... Hahaha!” Prianto mengatakan dengan garang,sambil menyubit pinggang Bu Lasmini.
“Cuih ! Aku tidak akan sudi , kau anggap pelacur begini!Aku menyesal mau menari denganmu!Turunkan aku sekarang !!” Ucap Bu Lasmini dengan nada tinggi.
            Lelaki disampingnya hanya tertawa sambil menghisap sebatang rokok.Sedangkan Bu Lasmini tersedu menangis.Dengan segala tekat ia memberanikan diri membuka pintu mobil yang sedang melaju pelan.BRAK ! pintu itu terbuka dan Bu Lasmini jatuh tersungkur di jalan berbatu.Prianto terlihat gelagapan.mukanya merah padam dan menujukkan expresi kebencian.Bu Lasmini lari tunggang langgang sambil memegangi pakaian kembennya.Ia berlari jauh sampai ke sebuah rumah kecil yang terlihat bersih.Ia menoleh,mobil itu tak tampak lagi.
“Nduk,awakmu sopo?Ono opo ing kene?” seorang nenek tua keluar dan bertanya pada Bu Lasmini.
“Kulo Lasmini.. Wonten tiang jaler,ingkang bade mbeto kulo mlayu!” Jawab Bu Lasmini.
“Omah mu ngendi? Klambimu mlajeng iku...!”
“Kulo tiang Ndadapan, nggeh tari ledek!”
“Yen pancen kowe iku Ledek, ora usah bali.Urip’o nek kene wae.Aku dewe ing kene!”
“Mbah, kulo niki sampun kangungan putri..” jawab Bu Lasmini jelas.
“yo wes,turu’o sewengi ing kene! Amarga iki wis wengi!” pinta nenek itu sambil memegangi tangan Bu Lasmini.
            Bu Lasmini mulai memasuki rumah kecil tua itu.Di sebagian dindingnya terpajang lukisan dan foto-foto tari yang menarik.
“Ini semua adalah lukisan Eyang Ratmo suami Eyang Lastri.Beliau adalah seorang pelukis,namun kini hanya kenangannya saja yang kami lihat.Beliau meninggal 6 tahun yang lalu...” suara seorang wanita tiba-tiba membuyarkan fikiran Bu Lasmini.
“Bergantilah pakaian dan kembali untuk makan malam....” wanita itu kembali berucap sambil menyerahkan pakaian.Bu Lasmini bingung dengan wanita yang mengagetkannya tadi.Ia berfikir siapa wanita tadi, mungkinkah anak nenek tua tadi ?
            Tepat pukul 8 malam Bu Lasmini sudah siap untuk makan malam.Nenek dan wanita tadi sudah bersiap dengan piring aluminium dan beberapa makanan.
“Kenalkan, aku Nadia dan ini Eyang Lastri.Saya adalah salah satu murid Eyang dan saya tinggal di belakang rumah ini.Tapi,saya lebih sering tinggal disini menemani eyang...” Katanya halus sambil mengambilkan nasi untuk Bu Lasmini.
“Makanlah, ini masakan Eyang...” lanjutnya sambil menyodorkan piring pada Bu Lasmini.
“Ya, terimakasih... Eyang Lastri ini seorang guru tari?” tanya Bu Lasmini yang masih terlihat bingung.
“Iya,beliau adalah seorang penari hebat.Khususnya ledek.Tapi,maafkan Eyang... Beliau ini tak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar!” Lanjut Nadia.
            Waktu makan malam telah usai.Perut Bu Lasmini sudah terisi.dan kini Nadia membawa Bu Lasmini ke bilik-bilik rumah tua.Apa yang dilihatnya membuat nya tajub.Lukisan almarhum Eyang Ratmo indah dan begitu bermakna.Nadia menemani Bu Lasmini hingga larut malam.Tepat pukul 23.00 WIB sebuah alunan lagu terdengar begitu lembut.Bu Lasmini menyaksikan sendiri bagaimana Eyang Lastri menari Ledek.Dengan panggilan hati Nadia dan Bu Lasmini ikut menari di belakang eyang.
“ledek iki,tarian asal Jawa.. sopo wae kang dadi penerus’e kudu iso nggowo diri.Yen ora bakal rusak.Ledek iki ana ing Tayuban.. lakonono opo wae kang iso mok lakokne...” Eyang Lastri menembang kata-kata itu dengan penuh penghayatan dan ia terus menari dengan lemah dalam balutan kain batiknya.
            Bu Lasmini dan Nadia terus mengikuti alunan musik pengiring tari ledek.Malam itu memang begitu sunyi dan misterius.Mereka berhenti menari sampai setengah 1 pagi.Bu Lasmini tertidur pulas di sebuah ranjang kuno , tempat tidur Eyang Lastri.     
            Malam berganti dengan pagi.Matahari menyingsing di ujung timur.Bu Lasmini berganti pakaian , dengan pakaian ledeknya kemarin dan berpamitan pulang kepada Eyang Lastri dan Nadia.Ia pulang dengan naik ojek yang dipesan Eyang Lastri.
            Lima puluh menit perjalanan,Bu Lasmini sampai dirumah.Ia menemui seorang anak berparas cantik.Tanpa ba-bi-bu lagi,di dekapnya gadis kecil itu.Bu Lasmini tersedu dalam pundang gadis kecil itu.Mata bulat anak itu terlihat kosong,pipinya mulai basah.Ia menangis.
“Ibu kemana saja? Semalam aku tidur sendiri,aku takut bu...” pelukan gadis itu makin erat.
“Maafin ibu nak.Ibu sayang sama Prita.. jangan takut lagi ya... ”
            Gadis  kecil itu adalah aku.saat itu usiaku 10 tahun.Aku tahu pekerjaan ibu.Tapi,aku malas mengurusnya.Sepuluh tahun usia yang masih dini untukku,mengerti dunia ibu.Ayahku sudah tiada,saat aku berusia 3 tahun.Dia pergi,dibunuh massa karena mencuri gamelan di padepokan.Tak lama setelah Ibu memelukku,ia masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang,masih dengan balutan pakaian tari ledeknya.Aku mendekatinya dan memeluknya erat.Desah nafasnya cepat sekali.Tetapi,detak jantungnya melemah.Napasnya mulai tersendal dan dia berucap
“Bawalah selalu Ledek dalam setiap langkahmu.Lestarikan budaya kita... Ibu tahu,Prita bisa.Ibu sayang sama Prita.Maafin salah Ibu nak...” ucapan terakhir Ibu dalam dekapanku.
“Ibu,jangan pergi sekarang.Aku sayang sama Ibu...” aku terisak.
            Raut wajahnya kucium,dengan penuh kasih sayang.Aku kembali kehilangan orang yang ku sayang.Ibu menghembuskan nafas terakhir dalam pelukanku.Aku tak tau sebab kepergiannya,mungkin ibu menyimpan rasa sakitnya.Itu kenangan terakhirku bersamanya.Sekarang usia ku 24 tahun.Aku merindukannya,sangat merindukannya.Foto usang ini akan kuletakkan dalam dompet kecilku.Aku memenuhi kemauan Ibuku.Sekarang Ledek itu mendarah daging dalam hidupku.
Aku,akan mengenang Bu Lasmini.
Ibu yang aku sayang dan kucinta dalam setiap nafasku.

cerpen

Diposting oleh Unknown di 22.06 0 komentar

DUA KEMUDIAN EMPAT

Persahabatan itu tidak harus selalu bersama-sama.Persahabatan itu bukan dari fisik yang sempurna dan apa yang dimiliki.Persahabatan itu adalah saling dan saling.Tak ada kata yang tepat untuk mendifinisikan apa arti persahabatan sesungguhnya.Karena masing-masing persahabatan berbeda.Begitu halnya dengan pertemanan dua anak sekolah dasar.Vio dan Nandra.
***
Masa Orientasi Siwa Baru telah berlalu.Hari ini jam efektif dimulai.Sudah dapat di tebak bagaimana suasana kelas.Garing dan membosankan.Sikap masing-masing anak terlihat munafik dari sebenarnya.Pendiam dan polos.Pelajaran pagi ini dimulai dengan Bahasa Indonesia.Pelajaran perkenalan pagi ini terasa garing.Karena guru bahasa terlalu bertele-tele.Meskipun akhirnya, meminta muridnya memperkenalkan diri.
“Perkenalkan nama saya Vio Dewanta.Cukup panggil saya Vio.Saya berasal dari SDIT Ibadurrahman” seorang anak berpostur tinggi,kurus dan cantik memulai perkenalan.
“Selamat pagi,saya Adrisma Frazza,cukup panggil Dira” gadis bertubuh dempal dan manis memperkenalkan dengan datar.
“Perkenalkan nama saya Deliza Zannas ,berasal dari SDN 1 Nasional” gadis gemuk dan cantik mengakhiri dengan polos.
Pelajaran perkenalan hari ini selesai.Ditutup dengan tugas kerja kelompok yang membuat Zanna,Vio, dan Dira mengenal lebih dekat.
***
Hari efektif pertama SMPN Nusantara berakhir pukul 13.00 WIB.Seluruh murid keluar dari kelas dengan ekspresi yang berbeda.Beberapa siwa dengan seragam sekolah dasar yang sama dapat ditemui dengan mudah.Karena 30 persen siswa lulusannya yang memenuhi kuota siswa baru tahun ini.Dan notabene nya berjilbab.Siang terik itu Gadis bertubuh bongsor,hitam manis terlihat menanti seseorang di depan kelasnya dengan celingukan.Nandra namanya.Beberapa menit kemudian datang beberapa gerombolan murid berpakaian seragam SD sama menghampirinya.Mereka mengobrol asyik dengan riang.Disusul Vio yang tiba-tiba mengacaukan suasana.“Bagaimana, kelas pertama kalian? Lumayan nggak?...”
“haha, biasa banget ” beberapa dari mereka menjawab datar.
Percakapan yang hanya beberapa menit itu berakhir.Tinggalah Vio dan Nandra yang berjalan bersama dengan sedikit canda di tengah koridor , menuju parkiran sekolah.Mereka selalu pulang dan berangkat sekolah bersama meskipun jarak rumah yang berbeda.Setia dan ikhlas adalah awal dari persahabatan sesungguhnya yang mereka bangun sejak masa kanak-kanak di sekolah dasar.
***
Seiring berjalannya waktu Zanna dan Dira mengenal sosok Nandra.Mereka sering bertemu karena Vio selalu mengajaknya ke kelas 7E.Tanpa sengaja empat anak ini akrab dan berteman dengan baik.Saling mengerti satu sama lain dengan berbagai perbedaan.Jalan bersama kesuatu tempat.Terlihat selalu bersama dimanapun.Hingga datangnya beberapa  sosok remaja lelaki yang membuat mereka sedikit sibuk.Meskipun tak pernah lupa.Pertemanan itu terlihat sangat sempurna meskipun tak pernah ada kata “kita sahabat” hingga kenaikan kelas sembilan.
***
Sistem kelas moving sudah diterapkan sejak 10 tahun terakhir di sekolah.Begitupula saat kenaikan kelas sembilan.Masing-masing kelas memiliki karakter yang berbeda.Mereka berempat berpencar.Dira dikelas 9C.Vio dikelas 9G bersebelahan dengan Nandra dan Zanna dikelas 9H.Perbedaan kelas dan rutinitas kelas sembilan membuat mereka sibuk dengan urusan pribadinya.Awal semester begitu santai.Karakter dan rutinitas pun berbeda.Zanna dengan beberapa barang branditnya dan acara-acara hardcore yang membuatnya jarang berkumpul.Tetapi, masih tetap humoris dan tak pernah ada kesan nakal dalam dirinya.Dira yang sibuk dengan latihan rutin sebagai atlet voli yang sebentar lagi akan bertanding di tingkat nasional.Nandra dengan beberapa les privat dan kelabilannya terhadap pacar,permulaan gengsi terhadap barang-barang brandit dan malu bila tak tau bagaimana hardcore.Serta Vio yang sibuk mengurus ekstrakulikuler jurnalistik sekolah.Rutinitas itu tak pernah terlihat hambar, teman lelaki atau sebut saja pacar, selalu menemani dengan penuh perhatian dan kesetiaan.Satu hal yang membuat persahabatan itu tertutup dan aneh.Hanya Zanna yang tak pernah mau menjawab siapa pacarnya.Mungkin hanya beberapa yang mau ia akui sebagai pacar.Inilah permulaan dari perpecahan.Cowok.
***
Semester pertama terus berjalan.Persahabatan mereka seolah beriringan dengan banyak kegiatan tak terkecuali acara ketemuan sepulang sekolah dan kencan ala siswa SMP yang masih childish.Sempat mereka pergi bersama hanya berempat menggosipkan berita terbaru disekolah.Bergunjing tentang anak-anak populer dan aneh.Saling curhat tentang pacar masing-masing.Berita heboh yang tentunya bukan hanya mereka yang tercengang satu sekolahpun pasti kaget dan berfikir impossible.Layaknya berita-berita di koran harian atau berita tv yang seliweran .Nandra memacari Dava Pratama mantan ketua OSIS siswa kelas 9G.
***
Nandra yang awalnya tergila-gila pada Dava dan penantian yang cukup panjang, akhirnya  mendapatkan apa yang ia harapkan.Dava Pratama menjadi miliknya.Nandra menyayangi dengan tulus, berbeda dengan mantan-mantannya yang seolah hanya boneka barbie.Sikapnya terhadap Dava berlebihan.Waktu terus berjalan Nandra mulai berubah.Jarang berkumpul lagi dengan Zanna dan Dira.Seolah dunia hanya miliknya dan Dava.Meskipun Vio tetap bagian kesehariannya.Dava terlalu overprotective.Permintaannya dibatas kewajaran.Sempat meminta Nandra berhenti memakai kaos brandit, berhenti mendengarkan musik-musik hardcore bahkan memintanya untuk menjauhi Zanna secara diam-diam, meskipun hanya Vio yang tau.Namun, pada akhirnya Nandra menceritakan separuh dari apa yang dikatakan Dava kepada Zanna.Konflik mulai muncul.Zanna merasa ada hal yang aneh, diantara mereka.Ia mulai tak menyukai sikap Nandra.Curhat hanya pada Vio dan Dira.Perpecahan dimulai hanya dari saling menutupi.
***
Banyak gosip yang lalu-lalang disekolah.Tentang Nandra dan Dava.Bahkan detail hingga Zanna,Dira dan Vio terlibat.Tentu saja tidak natural semua gosip murahan anak SMP beredar.Pengadu domba sedang mengintai.Zanna mendengar apa yang sedang berlalu lalang.Perlahan ia menjaga jarak pada Nandra demi keutuhan hubungan Nandra dan Dava.Vio dan Dira tak bisa berbuat banyak.Mereka sudah menasehati Nandra dan Zanna.Nandra tak pernah egois.Dia tegar dan lebih memilih Zanna.Tapi Zanna terlanjur mengalah.Zanna mulai membenci Dava.Hingga masalah ia harus menjauhi Zanna agar tak tertular acara hardcore dan sejenisnya memuncak. Jejaring sosial menjadi saksi bisu yang sempat membuat perang dingin dengan berbagai kata frontal didalamnya.
“Ya,begini kamu Nan, ngeyelan.Sikap mu berubah” komentar yang halus tapi mengena dari Dava.
“Berubah gara-gara temenmu” lanjutnya.
“Temenku yang mana va?” Nandra menjawab dengan polos layaknya anak SD
“temenmu siapa lagi kalo bukan DELIZA ZANNAS?” komentar terakhir yang frontal meskipun tak di mention.
Awalnya semua baik-baik saja.Zanna tak pernah tau hal itu.Tapi akhirnya Vio memberi tahu tanpa sengaja.”Kamu marah sama Nandra, Za?” tanyanya polos.
“Biasa” cukup datar.”Loh, kamu enggak baca di fb?” Vio fikir Zanna sudah tahu apa yang terjadi.Ternyata Dea tak mengerti apa-apa.”Nandra ngomong apa?, Dava apa Nandra? Aku semalem enggak buka Fb.” Jawabnya bertubi-tubi.Vio gelagapan.Ia lihat lagi di Facebook.Komentar itu sudah dihapus sejak 24 jam yang lalu.”Aku lupa de.Di facebook udah dihapus.” Jawab Vio penuh ketakutan.Mereka berdebat di jalan menuju tempat futsal di daerah kota.Dan akhirnya Vio mengalah untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.Tapi ia memanipulasi sedikit agar tak semakin membuat runyam.”Kamu tenang aja, Nandra lebih milih kamu dibanding Dava”
***
Tak saling menyapa dalam satu kelas,tak pernah berkumpul bersama.Sekalipun Nandra meminta maaf berkali-kali bahkan sampai hubungannya dan Dava berakhir.”Za,aku minta maaf.Maafin Dava.Aku udah putus.Please za maafin aku” Nandra memohon dengan fakta sebenarnya.”Iya,udah aku maafin” Zanna menjawab datar.Terlihat jelas ia memaafkan tapi tak tulus.Dira hanya bisa memohon agar mereka kembali seperti dulu.Tanpa Masalah.Pertemanan mereka terus berlangsung.Nandra dan Zanna terlihat baik-baik saja meski sedikit berbeda.Tetapi,entah bagaimana tekanan batin mereka.Dira masih baik-baik saja dengan Rafa pacarnya yang tempramental.Vio dengan kegirangannya meskipun sebenarnya pahit setelah putus 2 bulan sebelum anniv dengan Abram. Nandra sempat frustasi 2 bulan menjelang UN karena dia masih memiliki rasa yang amat besar terhadap Dava.Zanna yang mulai meninggalkan acara metal,hardcorenya dan perlahan memaafkan kesalahan Nandra dengan tulus. Menjelang Ujian Nasional mereka memiliki harapan yang sama.Lulus dengan nilai yang memuaskan.Meninggalkan acara main-main dan rutin mengikuti bimbel bersama.Berharap semoga apa yang dicita-cita kan menjadi nyata.
***
Ujian Nasional tingkat SMP berjalan dengan lancar.Doa dan harapan yang terus dipanjatkan setiap hari oleh seluruh siwa kelas sembilan.Dan akhirnya jerih payah mereka terbalaskan SMPN Nusantara lulus 100% dengan nilai memuaskan.Ekspresi campur aduk yang tak dapat digambarkan lagi.Hanya syukur yang mereka ucapkan.Wisuda kelulusan telah datang.Mengembalikan anak didik kembali kepada orang tuanya.Dan perpisahan yang dipenuhi isak tangis setiap persahabatan. Setiap anak pasti memiliki tujuan masing-masing begitupula dengan empat sekawan ini.Zanna memilih SMA Harapan di kotanya.Nandra dan Dira yang pada akhirnya di terima lewat jalur PMDK di salah satu sekolah terbaik.Dan Vio yang harus meninggalkan Kabupaten Kadiri, untuk tinggal bersama Ibunya di luar kota.Ia diterima di salah satu sekolah berlabel RSBI di kota barunya secara mudah kerena NEM yang cukup.
***
Hari perpisahan telah tiba, mereka berempat benar-benar tak percaya harus saling berjauhan dengan Vio.”Vi,tetep jadi sahabat kita yaa.. jangan pernah lupa.Sering maen kesini.kalo ada masalah cerita.Kita sayang kamu.Selalu” mereka berpelukan erat.Mencium pipi kanan dan kiri meminta maaf dan berterimakasih.Vio pergi dengan berat, meninggalkan banyak hal.Keluarga neneknya,teman-temannya,seluruh kenangan bersama Abram, dan masa-masa SMP yang gila.Akhirnya mereka benar-benar harus berpisah dalam jarak yang cukup jauh dan dapat dipastikan mereka akan jarang bertemu.Entah apa yang akan terjadi di antara jarak dan waktu.Apakah masih ada kata sahabat diantara Dira,Nandra,dan Zanna tanpa Vio? . Sesungguhnya tak ada kata sahabat diantara mereka.Hanya saja mereka berkata “kita ini teman” tapi faktanya sikap mereka berempat adalah layaknya sahabat.Mereka berempat tak pernah memiliki komitmen”kita harus .....”. Komitmen mereka tertanam dalam masing-masing jiwa.Dan hanya mereka sendiri yang akan mengubah.
 

naila nafisa Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos